Tampilkan postingan dengan label #Ternate. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #Ternate. Tampilkan semua postingan
Borero, Tulisan-tulisan yang tercecer: Karya M.Adnan Amal




Borero, to sonyinga ine fira| Kie gudu, gosa badan ma singsara| Gate ifa la to sone bato | biar to sone to sonyinga borero|



Penggalan lagu diatas mungkin tak asing lagi bagi sebagian masyarakat Maluku Utara. Lagu daerah yang berjudul Borero ini sudah kita kenali semenjak Sekolah Dasar, tepatnya pada mata pelajaran muatan lokal. Seingat saya, kami (murid, red) diwajibkan menghafal beberapa lagu daerah, salah satunya Borero sebagai prasyarat lulusnya mata pelajaran Mulok (muatan lokal/kesenian). Mau tak mau kami (harus) mempelajarinya. Bahkan sampai SMP dan SMA, menyanyikan lagu daerah adalah sebuah kewajiban jika ingin lulus Ujian Sekolah. Namun sangat disayangkan, pada waktu itu kami hanya sibuk mencatatkan kembali lirik lagunya yang telah dituliskan guru di papan tulis kapur tanpa menanyakan siapa pengarangnya.

Dan jujur, baru sabtu sore kemarin (6/10/18) saya mengetahui bahwa pencipta lagu Borero adalah Drs. Abdul Karim Syafar. Nama pencipta lagu Borero dengan sapaan Engku Doel ini saya ketahui langsung dari Taufik Adnan Amal pada acara Memorial Lecture, Mengenang Adnan Amal dan Karyanya yang digelar FORDISTA (Forum Diskusi Insan Cita) dan Jakofi (Janglaha Kofi). Bersamaan dengan ini diperkenalkan juga buku dengan judul Borero.

Almarhum M. Adnan Amal, suami dari Ny. Ida Djafaar ini telah menuliskan karya-karya termahsyur: Kepulauan Rempah-rempah (KPG, 2010), Tahun-tahun yang menentukan (2008), Cerita Rakyat Halmahera (2013), Orang Galela: Alam Pikiran Tradisi dan Budaya (2013), Sejarah Maluku Utara (2 Jilid 2003-2004), Kehadiran Spanyol dan Portugis di Maluku (2010). Pada acara Memorial Lecture ini, disuguhkan satu buah buku berjudul Borero (Tulisan-tulisan yang tercecer). Borero menjadi persembahan termanis yang dapat kami cicipi setahun setelah wafatnya Almarhum, Al-Fatihah.

FORDISTA dan Jakofi berinisiasi menggelar Memorial Lecture ini karena M. Adnan Amal merupakan tokoh besar Maluku Utara yang telah memberikan karya bagi kemajuan literasi daerah. Rahmi Husen, salah satu pendiri FORDISTA dalam pembukaan di teras Jakofi sabtu kemarin menuturkan bahwa Memorial Lecture diselenggarakan untuk mengenang M. Adnan Amal yang telah memberikan banyak sumbangsih karya bagi Maluku Utara. Tradisi ini pun dianggap penting sebagai pembelajaran bagi generasi muda.

Almarhum M. Adnan Amal, Bapak dari Taufik Adnan Amal, Chairunnisa Amal, Anastasia Raihana Amal, Marjorie S. Amal, Wardah Amelia Amal, Nukila Amal dan Miagina Amal ini lahir tanggal 03 Januari 1930 di Galela, Halmahera Utara dan menghembuskan napas terakhir di Ternate, 04 Oktober 2017. Setahun sudah kepergian Almarhum namun rasanya jiwa dan pemikirannya tetap hidup di seantero semesta. Almarhum mengawali karir sebagai Hakim di beberapa Pengadilan Tinggi di beberapa kota seperti Ambon, Manado, Bandung, Palu hingga balik lagi ke Makassar. Sarjana Hukum lulusan UNPAD Bandung mengakhiri karirnya sebagai Ketua Pengadilan Tinggi Maluku dan memilih aktif sebagai Dosen luar biasa Hukum Acara Pidana dan Hukum Acara Perdata di Universitas Khairun Ternate sampai tahun 2017.

Membaca Borero, Tulisan-Tulisan Yang Tercecer

Borero, tulisan-tulisan yang tercecer (2018) merupakan kumpulan tulisan almarhum M. Adnan Amal. Buku yang direvisi secara tematis ini didalamnya terdapat delapan bagian, diantaranya: Moloku Kie Raha, Maluku Utara, Ternate, Galela, Bangunan Bersejarah, Hukum, Tokoh, Pengantar dan Tinjauan Buku.

Beberapa judul yang sempat penulis baca diantaranya yaitu pada sub bahasan tentang Tokoh. M. Adnan Amal memotret sosok Chasan Boesoirie sebagai single fighter. Sosok kelahiran Semarang 13 Agustus 1910 disematkan menjadi nama Rumah Sakit Umum Daerah di Maluku Utara saat ini, RSUD Chasan Boesoirie. Memiiki profesi sebagai seorang dokter namun CB sapaannya juga aktif dalam berbagai kegiatan politik dan sosial. Dalam catatan perjalanannya Chasan Boesoirie merupakan salah satu pendiri partai politik pro-Republik “Persatuan Indonesia” dan surat kabar Menara Merdeka yang merupakan corong RI di Indonesia Timur. Kerja keras CB dan teman-temannya pada masa itu telah menjadikan Maluku Utara sebagai daerah Republiken pertama di Indonesia Timur.

Tuan adalah seorang militer, saya seorang dokter. Tuan harus membunuh banyak musuh sedangkan saya harus menyelamatkan banyak jiwa”, sekilas pernyataan CB saat diinterogasi kalangan militer NICA di Morotai. Pernyataan ini sekaligus menyiratkan betapa bertanggungjawab CB terhadap masyarakat pun juga kecintaannya terhadap profesi dokter.  Kepekaannya terhadap lingkungan pun mendorongnya untuk mendirikan cabang kepanduan Bangsa Indonesia (KBI). Kemudian selanjutnya bergegas bersama para remaja mendirikan cabang organisasi Muhammadiyah beserta Madrasahnya.

Sub Bahasan tentang Moloku Kie Raha merupakan bagian yang paling menarik, terdapat beberapa tulisan yang telah penulis cicipi terkait: Kapan Agama Islam Masuk ke Maluku Utara, Masyarakat Tionghoa di Maluku Utara dan Sejarah Pendidikan Maluku Utara.

Kepulauan Maluku dikenal dunia pada zama Dinasti Tang (618-906). Kawasan yang disebut dengan Mi-Li-Ki atau Mi-Li-Ku merupakan gugus pulau-pulau penghasil cengkih dunia, yaitu Ternate, Tidore, Moti, Makian dan Bacan. Ini termuatkan dalam tambo Dinasti yang menyatakan bahwa terdapat sebuah kawasan yang terletak di kawasan barat daya sebagai penentu arah Ho-Ling. Orang-orang Tionghoa bertandang ke Maluku untuk berdagang rempah-rempah: cengkih ke wilayah India, Srilangka hingga ke pantai Timur Afrika. Namun dikarenakan harga cengkih yang cukup mahal. Pada abad ke-16, satu pon cengkih di Ternate bisa melambung hingga 32 ribu persen jika dijual ke Eropa. Hal ini juga membuat orang-orang Tionghoa tidak menyebarluaskan keberadaan wilayah rempah-rempah ini. Namun pada abad ke 13, para pedagang Jawa, Melayu, Arab dan Gujarat mulai mengetahui daerah rempah-rempah ini hingga berakhir pada 1607 dimana VOC hadir dan mulai memonopoli rempah-rempah di Maluku. Meskipun demikian orang-orang Tionghoa turut memberikan kontribusi berupa pembauran di bidang bahasa yaitu penggunaan sapaan ci untuk kakak perempuan dan ko untuk saudara laki-laki yang lebih tua.

Di bidang bahasa, kata-kata engkong untuk kakek, ko untuk saudara laki-laki yang lebih tua dan ci untuk kakak perempuan, sudah menjadi istilah khas Ternate khas pembauran.

Sejarah Pendidikan di Maluku Utara, dimulai dengan didirikannya sebuah sekolah seminari dengan pengantar bahasa portugis oleh Galvao, Gubernur ke-7 yang ditempatkan Spayol dan Portugis di Ternate. Sekolah ini sejenis dengan sekolah yang didirikan kerjaan Sriwijaya pada zaman Hindu di Palembang. Masa jabatan Galvao bermula dari tahun 1537 sampai 1540 dan dinyatakan telah memberikan kesejahteraan bagi rakyat Ternate baik di bidang pendidikan, ekonomi, pemerintahan dan sosial budaya.

Pada tahun 1602, VOC diinstruksikan Perlemen Belanda  untuk mendirikan sekolah dengan menggunakan bahasa Belanda sebagai pengantarnya disamping menyebarluaskan agama Kristen Protestan. Sekolah berada di kawasan pemukiman Belanda, Willemstad. Sekolah ini mengajarkan cara berhitung, baca tulis, bahasa Belanda pada 12 murid pribumi dan anak-anak pegawai VOC.

Sampai pada tahun 1695 kondisi pendidikan Maluku Utara masih sangat terbatas. Di Ternate, jumlah sekolah dan guru masing-masing adalah dua buah; lima orang dengan jumlah murid sebanyak 54 orang. Sementara di Makian dan Bacan jumlah sekolah masing-masing hanya satu sekolah dengan guru masing-masing satu orang. Sedangkan murid hanya berjumlah 12 orang di masing-masing sekolah. Pada masa pemerintahan Belanda didirikannya HIS untuk anak-anak pribumi dan sebuah ELS untuk anak bangsawan dan anak-anak orang Belanda. HIS berlokasi di Kenari Tinggi sedangkan ELS di jalan Chasan Boesoeirie. Saat pendudukan Jepang, sekolah ini dilikuidasi dan bekas murid HIS dan ELS ditampung di Sekolah Rakyat (volkschool).

Selanjutnya sekolah UZT (Utrechste Zending Vereniging) beroperasi di Galela, sekolah ini berjumlah dua buah dan masing-masing satu buah di wilayah perkampungan Kristen di Tobelo, Loloda, Jailolo, Kao, Sao dan Buli. Untuk menyuplai guru yang kompeten didirikanlah sekolah guru di Tobelo. Pada masa Neterland Indie selanjutnya didirikan SR di setiap kecamatan meskipun hanya sampai kelas 3. Kemudian dibuat lagi  sekolah lanjutan dengan lama pendidikan tiga tahunan untuk kelas 4, 5 dan 6 di Ternate dan Tidore dengan nama Vervolg school (VS). Lanjutan VS adalah MULO (Middlebar school) setara dengan SMP saat ini yang pada masa itu hanya terdapat di kota Ambon dan Manado. Setelah perang dunia ke-2 usai barulah dibuat Algemene Middlebar School (AMS) yang setara dengan SMA, terdapat di Ambon.

Pada masa pergerakan, di Ternate didirikanlah beberapa sekolah. Tokoh-tokoh pergerakan seperti M.S Djahir dan Suryadi mendirikan Taman Siswa. Sedangkan pada tahun 1936 Al- Ahmad Syechan Bachmid membangun Islamiyah School, sekolah dasar dengan pengantar bahasa Indonesia. Pergerakan Muhammadiyah juga mendirikan sekolah-sekolah agama masing-masing di Galela, Tobelo, Ternate dan Weda. Ustad Bahsoan juga mendirikan Madrasah dengan pengantar bahasa Indonesia dan Pendidikan Islam di Sanana. Selanjutnya Sekolah Guru (SGB) dan sebuah sekolah lanjutan tingkat SMA dan SMP dibangun Pemerintah RI pada dekade 1950-an.

Pendirian Universitas Khairun menjadi klimaks penceritaan tentang Sejarah Pendidikan di Maluku Utara oleh M. Adnan Amal. Unkhair di Ternate menjadi satu-satunya perguruan tinggi swasta yang lahir di Indonesia bagian timur. Adapun tujuan didirikannya Unkhair adalah untuk mencetak para sarjana dan memback-up perjuangan Maluku Utara dalam memperoleh status propinsi.

Begitu sekiranya potret tentang Chasan Boesoirie, seorang Dokter Pejuang. Dan juga penceritaan tentang Warga Tionghoa di Ternate yang telah memberikan representasi kekayaan dan kejayaan bumi Moloku Kie Raha. Negeri penghasil rempah-rempah yang menjadi primadona bagi bangsa penjajah. Begitupun sajian pohon masa lalu yang pada ranting-rantingnya bisa ditemukan dengan jelas darimana pendidikan di Maluku Utara bermula. Sungguh penuturan yang dikemas begitu mendalam oleh sosok M. Adnan Amal menghentakkan kita pada heroisme masa silam. Tanpa mengenal batasan-batasan para pejuang mampu berdiri kokoh di garda depan untuk memajukan daerah bahkan bangsa dan negara tercinta.

Memorial Lecture sebuah Apresiasi Karya

Apresiasi terhadap M. Adnan Amal dimulai dengan penyampaian Dr. Syaiful Bahri Ruray. Generasi milenial tidak memiliki rujukan apa-apa tentang kesejarahan seperti tentang Borero, Cala Ibi, Naro Oti sehingga karya-karya Almarhum M. Adnan Amal patut diapresiasi. Sekapur sirih yang dituliskan Dr. Syaiful Bahri Ruray dalam Borero bahwasanya Almarhum M. Adnan Amal merupakan Sosok Aksetis Pencipta Ilmu. M. Adnan Amal dalam berbagai karyanya, seakan memberi jalan pulang sekaligus perspektif futuristik bagi kita generasi masa kini agar membangkitkan kesadaran sosiokultural.

Hal terpenting yang diwariskan oleh M. Adnan Amal adalah spirit akademis. Dijelaskan oleh beliau bahwa “Spirit Akademis oleh M. Adnan Amal menjadi warisan mutiara yang sangat berarti untuk Maluku Utara ke depan”.Karya-karya M. Adnan Amal menjadi representasi dari spirit yang dimaksud. Ketika berada di Jakarta beliau pun hanya menghabiskan waktu di Perpustakaan Nasional. “Salemba menjadi tempat nongkrong almarhum ketika berada di Jakarta”, tutur anggota DPR RI ini. Bahkan dari Perpusnas beliau menemukan informasi terkait naskah tentang Maluku Utara yang telah berbentuk microfilm, mengingat naskah aslinya sudah tidak dapat disentuh karena telah uzur.

Beberapa catatan penting dunia, banyak yang mengutip Maha Karya M. Adnan Amal, Kepulauan Rempah-rempah. Selanjutnya ditegaskan bahwa kehadiran Borero, Tulisan-tulisan yang Tercecer akan menjadi pesan bagi kita generasi muda untuk tidak melupakan sejarah. Sebagaimana Borero adalah pesan atau komitmen, maka orang yang melanggar borero adalah orang yang melupakan komitmen kebangsaan atau kesejarahan. Demikian tutupnya.

Sementara Sultan Tidore menuturkan bahwa sosok M. Adnan Amal telah menuntun generasi masa kini bergerak ke masa lalu serta telah menguatkan identitas masyarakat Maluku Utara.

“Om Nan menuntun saya ke masa lalu. Tidak banyak orang di Maluku Utara yang bisa menuntun kita untuk bertemu dengan para leluhur kita. Om Nan telah mempertegas jati diri saya, sehingga saya tidak malu menjadi atau meyakini telah menjadi orang Tidore, Ternate, Moti dan lain sebagainya”


Sebagai ungkapan rasa syukur  dan terima kasih Jou Sultan memandu semua yang hadir di beranda Jakofi yang bersebelahan dengan Jakofi printing sore itu untuk membaca surat Al-Fatihah.

Apresiasi karya juga diberikan oleh Dr. Kasman Hi. Ahmad. Menurut mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Maluku Utara ini ada dua hal yang tidak dapat dilupakan dari Almarhum M. Adnan Amal, yakni: pergerakan kemuhammadiyaan di Maluku Utara dan tradisi akademiknya. M. Adnan Amal merupakan pimpinan Muhammadiyah pertama. Pada tahun 1924 beliau mengumpulkan pemuka-pemuka adat membentuk acara formal dan membahas tentang kemuhammadiyaan.

Sementara tradisi akademik/intelektual yang diwariskan oleh generasi muda saat ini sepatutnya digunakan di setiap kampus. Sudah banyak karya yang dilahirkan dari tangan beliau. Membaca, mengumpulkan referensi dan menulis adalah tradisi yang tak terlepas dari kehidupan M. Adnan Amal. Bahkan sampai menjelang tutup usia, masih tetap menulis.

Dr. Kasman Hi Ahmad juga menyampaikan asa untuk membangun Adnan Amal Institut sebagai bentuk pemeliharaan terhadap pemikiran-pemikiran Almarhum M. Adnan Amal. Beliau pun melanjutkan ingin membuat perpustakaan dengan salah satu sudutnya berisi buku-buku almarhum M. Adnan Amal. Mengingat sebelum berpulang, buku-buku milik Almarhum dititipkan kepada beliau.

Dr. Muamil Sun’an mengungkapkan bahwa almarhum adalah sosok yang tenang dan tidak banyak bicara. Bahkan jika berkunjung ke rumah, Almarhum hanya berbicara seperlunya saja. Almarhum lebih menghargai nilai-nilai intelektual, ungkap cucu M. Adnan Amal ini. Pendidikan adalah hal yang harus diutamakan di dalam keluarga. Sikap yang ditunjukkan M. Adnan Amal semasa hidup menjadi pembelajaran bagi keluarga.

Meskipun tidak dinasehati secara langsung kami bisa membaca apa yang diinginkan beliau. Hal ini terkait bagaimana memposisikan diri dan bercita-cita. Pengajaran beliau tanpa nasihat, tanpa kata-kata. Almarhum mengajarkan kami agar menjadi orang terbaik dan menjadi panutan masyarakat serta terus meningkatkan tradisi literasi
, tutup dosen Fakultas Ekonomi Unkhair ini.

Di penghujung Memorial Lecturer apresiasi karya diberikan oleh Dr. Darsies Huma, yang tak lain adalah mahasiswa Almarhum di Fakultas Hukum Universitas Khairun. M. Adnan Amal adalah sosok yang tenang dan bersahaja, arif dan bijaksana. Sebagai dosen, almarhum termasuk pribadi yang sangat bertanggung jawab terhadap mahasiswanya. Almarhum M. Adnan Amal ingin agar mahasiswanya tuntas dalam menyerap ilmu.

Almarhum mengajar Hukum Acara Perdata dan Bahasa Belanda. Referensi yang digunakan di saat mengajar pun berkelas. Sebagai mahasiswa, banyak teladan yang bisa diambil dari beliau, Ungkap Dr. Darsies Huma. Beliau pun menceritakan ketika Almarhum mengajar tentang materi waris, ada pesan yang sempat disampaikan yaitu menjadikan ilmu sebagai nomor wahid.

Kita kalau meninggal sebaiknya membekali anak-anak dengan ilmu saja, jika harta maka dikhawatirkan akan menjadi sengketa, pesan Almarhum kepada mahasiswa saat itu.

Meskipun Almarhum merupakan tipe serius, tetapi masih memiliki jiwa humoris. Hal ini terbukti pada saat mengajar, almarhum masih menyempatkan memberikan analogi sederhana, studi kasus sesuai dengan kondisi keseharian dan menyelipkan hal-hal lucu sehingga serta-merta mengundang tawa mahasiswa-mahasiswanya. Sekarang Dr. Darsies menyadari bahwa penyederhanaan dan unsur humoris yang diselipkan almarhum saat mengajar tak lain adalah untuk melekatkan materi dalam ingatan.

Teori-teori hukum yang cukup sulit mampu disederhanakan oleh beliau. Konsep yang sulit menjadi mudah. aku Dr. Darsies.

M. Adnan Amal membentuk Keluarga Literasi

Keluarga M. Adnan Amal menjadi potret keluarga literasi masa kini. Betapa tidak, penggarapan Borero tulisan yang tercecer tidak terlepas dari kepiawaian anak-anak cucu almarhum M. Adnan Amal. Seperti dikutip dalam catatan editor Borero: yang mengetikkan naskah tulisan tangan Almarhum untuk manuskrip buku ataupun kertas kerja dan artikel adalah Wardah Amelia Amal. Berbagai naskah dan tulisan yang berceceran dihimpun ke dalam file berbentuk komputer. Rembug gagasan juga kerap dilakukan dalam penyusunan buku ini terutama dengan ibunda Ida Djafaar dan anak-anak almarhum yang lainnya, Chairunnisa Amal, Anastasia R. Amal dan Majorie S. Amal lewat diskusi seru di grup keluarga. Sampaipun cicit almarhum, Khalid Syaefullah turut menyumbangkan karya fotografinya untuk sampul depan buku.

Launching buku Borero menjadi suatu kejadian yang tidak biasa. Budaya membagikan buku Yasin bertepatan dengan setahun kepergian orang yang kita cintai mungkin tidak diharapkan almarhum. Bahkan pun tidak ada budaya tahlilan dalam pelepasan kepergian almarhum. Maka dari itu untuk mengenangnya keluarga berinisiasi membuat sebuah buku kumpulan tulisan-tulisan menjelang setahun kepergiannya.

Pemilihan judul buku ini diawali diskusi di grup WA keluarga. Ada dua tawaran yaitu Kapita Selecta dan Borero. Walhasil dipilihlah Borero sebagai judul buku ini: Borero (Tulisan-tulisan yang tercecer). Hal ini dilatarbelakangi oleh makna yang tersirat dari kata borero serta apresiasi terhadap Drs. Abdul Karim Syafar atau Engku Doel sebagai pencipta lagu borero.

Lagu borero merupakan lagu daerah yang cukup popular, bahkan sempat direkam di Singapura pada masanya. Namun sangat disayangkan belum banyak yang mengetahui siapa pengarangnya. Bahkan jika di cari pada mesin pencarian google, maka yang muncul adalah Borero, NN atau No Name. Artinya pencipta lagu borero tidak diketahui secara jelas. Meskipun sudah menghafal lirik lagu Borero semenjak SD, sejujurnya sampai sekarang saya tidak mengetahui pengarang atau pencipta lagu ini. Beruntunglah dengan membaca Borero saya mendapatkan informasi terkait dengan pengarang lagu ini.

Almarhum M. Adnan Amal dalam sebuah tulisan tentang AK. Syafar mengungkapkan bahwa sampai pada tutup usia baik pemerintah kota, Universitas Khairun tidak memberikan apresiasi apa-apa kepada AK. Syafar. Padahal beberapa lagu daerah seperti Naro Oti, Rosaselli, Una Kapita hingga Hymne Universitas Khairun juga diciptakan oleh pria kelahiran Tidore ini.  

Banyak teladan yang dapat diambil dari almarhum M. Adnan Amal. Semoga sebagai generasi penerus bangsa kita dapat mengambil sedikit dari apa yang telah dicontohi beliau semasa hidupnya. Salah satunya dedikasi dan komitmen almarhum tuntuk menuliskan tentang negerinya. Sebagaimana kandungan buku Borero, agar kita generasi muda Maluku Utara (pada khususnya) untuk senantiasa menghargai, tidak melupakan sejarah negeri sendiri dan agar senantiasa merawat ingatan bersama akan akar dan asal-muasal kita. Gate ifa la to sone bato | biar to sone to sonyinga borero. Biarpun maut menjemput ragaku, tetapi komitmenku akan tetap kukenang. AL-FATIHAH!
Tulisan dipublikasikan pada Kompasiana










“Setidaknya aku pernah menawarkanmu beberapa pilihan untuk membuatmu bahagia dewi…..”

30 tahun hidup bersama. Di tahun ini, di tempat duduk yang sama kau mengajukan beberapa pertanyaan yang semestinya tak dipertanyakan. Meski kau tak meragu, aku bisa membaca matamu. Sungguh, aku benar-benar mencintaimu.
“Ingatkah kau dewi, saat aku mengajukan beberapa pertanyaan di tempat ini?” Qolbi menyodorkanku beberapa pertanyaan lampau – lebih tepatnya sebuah pertanyaan yang pernah diajukannya tiga puluh tahun lalu.
“Tak satu kata pun juga tanda bacanya yang aku hilangkan dalam memori ini abi” mataku berpendar ke arah burung-burung berkicauan. Di kanan kiri aku menyaksikan keadaan langit yang kian bersahaja.
“Memilihmu dan memutuskan hidup bersamamu adalah pilihan terbaik dalam hidupku” di bawah pepohonan yang rindang aku dan abi saling menaruh pandang, romantiknya masa silam kembali aku rasakan. Meskipun langit belum benar-benar memutih rasa ini terasa semakin bening.
**

25 tahun yang lalu.
Aku sedang mengandung Al-haqqi, tepat dua puluh tiga hari. Surat ini tergeletak diatas note book kesayanganku. Aku membacanya sembari menumpuk penat.

I’m Ternate
Choose me….
You can feel atmosphere in peace
I’m Singapore
How about me?
You can see dynamics and gorgeous city

Dear my wife
Thinking of all the reasons
I’m blessed to be yours
I couldn’t ask for more, but please…..
With Alloh’s permit… I’ll bring you fly

Wajah yang semula pucat pasi perlahan berubah menjadi senyuman berarti. Sebab, bukan hanya surat ada juga  setangkai mawar penanda kesetiaan abi.
“Ada-ada saja abi” gumamku dalam hati.
Semenjak sebulan ini aku memang menghindari aktivitas berat, selama itupun aku meminta cuti kerja. Waktu yang banyak di rumah kugunakan untuk menyelesaikan seluruh rangkaian cerita tentang sumur, dapur dan kasur. Menulis adalah caraku mengusir penat. Setelah menikah, agenda travelling yang paling menjadi favorit sudah ku kubur dalam-dalam. Bukan apa-apa, membagun rumah tangga membutuhkan banyak anggaran tak terduga. Aku harus benar-benar irit. Tak perlu  bermimpi.
Jika matahari sudah benar-benar naik, aku tak pernah alpa menjemur nasi sisa kemarin sebagai bahan rengginang kesukaan Qolbi.
*
Sore belum juga berakhir tetapi hidangan makan malam telah tersaji. Sebelum menunggu Abi akupun menyempatkan untuk mengetik beberapa naskah puisi.
“Selamat malam sore” abi menyapaku dengan hati-hati.
Abi dengan nama lengkap Abdullah Qalbi Ikhsan adalah sosok suami yang paling pengertian. Keterkejutan yang terkadang akan membuyarkan konsentrasi pun dipahaminya. Tak pernah sekalipun membuatku terkejut ketika melihatku sedang sakau–berpacu dalam melodi: membiarkan jemari berkelana di antara tombol-tombol untuk mengeluarkan jurus tanpa bentuk.
Aku mengulurkan tangan pertanda salaman “sudah dari tadi pulangnya bi?”
“Belum lama dewi” jawabnya pelan
“sudahlah segeralah mandi, lanjutkan makan kemudian beristirahatlah” sambil menenteng sepatu aku berjalan ke arah meja makan.
Abi menuju kamar mandi. Aku segera merapikan note book dan beberapa memo notes yang berserakan. Taplak corak-corak keemasan menambah manisnya hidangan sederhana yang kusiapkan, di pojok meja ada pula satu toples rengginang.

**
Sebelum benar-benar pagi aku membaca kembali surat semi kaleng yang diletakkan abi tepat diatas note book ku.
“Abi, aku berterimakasih atas keikhlasan dan kasih sayang tulusnya selama ini” sungguh empat tahun 24 hari hidup bersamamu membuatku harus bersyukur berkali-kali”
kemudian aku melanjutkan pembicaraan, “Tak perlu sibuk-sibuk membawaku fly in the sky abi,
hidup membumi denganmu sudah lebih dari cukup” Aku melepaskan senyum manja, sepertinya ini yang teramat berlebihan.
“Tidak dewi, terbang bersamamu dan melayang bersama kebahagiaanmu adalah impianku. Surat itu akan menjadi bukti bahwa aku pernah menawarkan beberapa pilihan-pilihan kebahagiaan untukmu” abi berusaha menjelaskan secara detail maksud dan tujuan mengapa little romantic letter itu harus dituliskan.
 
**
Taman Kota
Kembali dibawah langit yang syahdu. Meski taman terlihat agak jauh dari mesjid Al-Huriyah. Tetapi masih terdengar jelas wejangan pagi dari Ustad Al-Haqqi. Mungkin speaker mesjidnya cukup mahal.

“Jamah mesjid Alhuriyah yang dirahmati Allah. Mari kita sama-sama merenungi perjalanan bersama waktu. Kita tentu harus benar-benar mengambil manfaat dari orang lain. Tujuannya adalah mengoptimalkan waktu dengan cara yang paling baik. Kita mungkin akan terkagum bila mengetahui bahwa Al’Qur’anul Karim merupakan Kitab Pertama yang menyodorkan metode manajemen waktu dengan begitu indah. Di setiap ayat terdapat arahan Allah SWT yang mengajarkan kita bagaimana kita menginvestasikan waktu dan mewujudkan kesuksesan dunia dan akhirat.
Al-Qur’an menerangkan tentang urgensi waktu dalam sebuah ayat yang sungguh indah yakni surat Al-Hajj ayat 47: “Dan sungguh satu hari di sisi Rabbmu itu seperti seribu tahun dari apa yang mereka hitung”.
Di dalam ayat tersebut diatas kita mendapatkan isyarat bahwa manusia tidak hidup kecuali dengan waktu  sepanjang tujuh puluh tahun, ini artinya dia hidup sepanjang 70:1000 = sekitar 7% dari hakikat satu hari.

Tuturan Al-Haqqi memiliki arti mendalam, yang mana usia manusia sangat pendek sekali, sehingga ayat tadi menerangkan pentingnya perhatian terhadap waktu dan memanfaatkannya dalam amal kebaikan yang bisa memberi keberhasilan pada diri dan masyarakat.
*
Belum genap sebulan Al-haqqi kembali dari Mesir. Semenjak itu Al-Haqqi sering mengisi ceramah-ceramah di mesjid dan acara di hari-hari besar keaagmaan. Abi dan uminya wajib hadir-mungkin itulah satu bentuk sederhana Al-Haqqi untuk membahagiakan kedua orang tuanya.
Seusai mengisi ceramah subuh di Mesjid Al-Huriyyah, Al Haqqi ditemui oleh seorang pemuda yang seumuran dengannya. Style nya juga tak berbeda. Baju koko berwarna cokelat susu dengan bawahan hitam pekat tak lupa kaki celananya yang dilipat tepat diatas pergelangan kaki.
“Assalammualaikum ustad” lelaki itu berjalan dengan langkah panjang mendekati Al-Haqqi
“Waalaikumsalam, bagaimana saudaraku?” Al-Haqqi menjawab dengan nada lembut
“Ini undangan untuk mengisi ceramah pada bulan Mei mendatang ustad, Jika ustad bersedia bisa hubungi nomor saya yang ada samping kiri bawah amplop itu” Lelaki itu menyodorkan amplop putih dengan ukuran kurang 20 cm.
**
Seusai menyantap hidangan makan malam: sayur asem, sambal terasi, nasi jagung dan ikan asin. Qolbi membuka pembicaraan.
“Dewi sudah hampir 30 tahun hidup bersamamu, tapi kupikir tak ada sesuatu yang bisa kuberikan untuk membuat kamu bahagia, bahkan little romantic letter pun tak sanggup aku realisasikan” Qolbi menatap langit-langit rumah.
“Tidak menjadi suatu masalah bagiku” Dewi menjawabnya dengan senyum menyeringai tipis.
“Jujur padaku dewi, sudahkah kau merasa bahagia hidup denganku selama ini?” Qolbi terkesan memaksa meminta jawabannya padaku.
“Abi, memberikan Al-Haqqi dalam hidup ini pun sudah lebih dari cukup. Percayalah” Aku mendekati Qolbi sembari menggenggam kedua tangannya. Menatap matanya dalam-dalam.
Malam yang kian hening.
Sungguh, meskipun sudah terlampau lama, tatapan mata juga dekapan hangatnya membuatku tak pernah meragu dan tetap mencintainya seperti di awal bertemu. Qolbi bergumam di dalam hati.
**
Setelah memberikan kuliah subuh, Alhaqqi menemuiku yang sedang asyik menggoreng rengginang di dapur. “Bu, bersiap-siaplah besok kita akan berangkat ke Ternate. Al-Haqqi diundang untuk memberikan ceramah disana. Bapak dan ibu harus ikut”
Aku tak bisa berkata apa-apa. Ada bulir-bulir air yang mengalir di sela-sela pipi.
*
Di depan Mesjid Al-Munawwar Ternate aku memeluk Al-Haqqi juga Qolbi sembari mengenang ucapan papa sewaktu masih hidup.
“Hari ini, kita menghabiskan sekitar setengah waktu hidup untuk bekerja. Alangkah baiknya waktu tersebut dilalui dengan kebahagiaan. Ibarat sebuah perusahaan yang memiliki peran menciptakan purpose, hope dan friendship dalam bekerja. Namun tahukah kamu, pada akhirnya kebahagiaan tetap merupakan tanggung jawab setiap orang”.

****

Ternate, Februari 2018









Cukup tertatih menuliskan ini, mencoba merenungkan kembali tanggung jawab diri. Meski terasa sangat terlambat, tapi apalah arti hidup jika tidak memulai sama sekali.

Flash back Story

Masih terekam dengan jelas, ketika hari pertama memasuki bangku SD. Diantarkan papa dan mama, ke sekolah yang jaraknya tidak jauh dari rumah pada waktu itu membuat saya deg-degan tak terkendali tetapi saya cukup berbahagia.

Memasuki jenjang sekolah menengah pertama yang jaraknya agak jauh dari rumah, yang mana harus menaiki oto mikrolet  (red; mobil angkutan umum) pulang pergi menjadikan tantangan tersendiri bagi anak lulusan SD zaman itu. Meskipun sangat katro di zaman sekarang, tapi sungguh bepergian tanpa orang tua merupakan tantangan tak terlupakan. Seiring berjalannya waktu saya pun tetap berbahagia.

Bebas masuk ke Sekolah Menengah Atas yang merupakan salah satu Sekolah Negeri favorit di kota kecil yang saya tempati melalui jalur Undangan, sungguh sangat mengesankan. Jarak SMA dengan rumah saya yang tidak berjauhan membuat saya bahagia. Meskipun di tahun kedua harus pindah rumah, alhasil jarak ke sekolah semakin panjang. Namun tidak serta merta bisa melunturkan kebahagiaan saya. Saya tetap merasa bahagia.
Gagal meraih mimpi menjadi dokter, mengurungkan niat ke Kota Batu dengan berat hati kemudian berbalik haluan memilih jurusan yang tak pernah terbayangkan merupakan tantangan yang membahagiakan. Endingnya saya sangat mencintai jurusan yang saya pilih, jujur sangat menguntungkan dan membahagiakan.

Diberi kesempatan melanjutkan studi di Kota Hujan cukup menghujani warna dalam hidup. Banyak pelajaran yang menghantarkan pada perubahan. Kesyahduan alamnya mengoarkan semangat bergerak dan membawa hampir pada puncak kebahagiaan.

Bukan hanya sekadar cerita tentang peralihan dari massa ke massa tetapi pada tersiratnya on becoming a learner di usia yang tak remaja lagi.



Memahami Belajar

Belajar merupakan aktivitas keseharian yang dilakukan oleh semua orang. Setiap orang pun memiliki hak untuk memilih atau membuat pilihan (freedom to choose). Kita bisa belajar dari maha guru (face to face), dari buku-buku bacaan, dari pengalaman-pengalaman yang telah terlewati, fenomena alam bahkan dari mimpi dalam tidur. Zaman dengan kemudahan akses informasi seperti sekarang ini pun menjadikan ruang-ruang belajar menjadi lebih luas terutama, bagi yang ingin memanfaatkannya.

Dengan belajar kita secara tidak langsung bertindak untuk melawan lupa dan belajar untuk bertanggung jawab terhadap diri.

Poin pertama, melawan lupa. Menurut Hamara Subakti (2014) dalam Tulisannya Melawan Lupa Sejarah dijelaskan bahwa sejarah adalah perjuangan melawan lupa dan melawan lupa itu sendiri merupakan bentuk perjuangan untuk sekadar mengingatkan. Namun saya ingin mengajak kita untuk bersepakat bahwa belajar merupakan perantaranya. Belajar adalah proses atau perantara melawan lupa. 

Dengan belajar berarti secara tidak langsung kita mengundang masa lalu atau masa sekarang agar terekam dalam memori kita. Bagi pembelajar yang aktif, yang terekam ini akan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk melakukan tindak yang lebih persuasif. Analogi sederhananya, jika saya belajar melalui suatu bacaan (membaca) maka saya akan merasa bahagia jika apa yang telah saya pelajari (dibaca) bisa tersampaikan kepada orang lain. Entah melalui jalur diskusi atau menuliskannya kembali dalam Karya Tulis dan membebaskan orang lain untuk menikmatinya. Saya pun teringat pada perkataan guru saya yang sekarang menetap di Kendari: 
Kebahagiaan akan kita dapatkan ketika kita sampai pada halaman terakhir buku yang kita baca, kemudian menceritakan kepada orang lain ataupun menuliskan dan membacakan isinya pada orang lain. 
Sungguh membahagiakan bukan?



Poin kedua, bertanggung jawab terhadap diri. Poin ini cukup menarik, mengutip Harefa Andrias (2000) bahwa manusia dilahirkan untuk menjalankan the three tasks, responsibility and humanity calling. Penjabarannya (kesimpulan sementara) bahwa manusia dilahirkan dengan tiga tugas pokok yaitu pertama, menjadi manusia pembelajar yang belajar terus menerus di ‘sekolah besar’ kehidupan nyata untuk memanusiawikan dirinya; kedua, menjadi pemimpin sejati dengan cara mengambil prakarsa dan menerima tanggungjawab untuk menciptakan masa depan bagi dirinya, lingkungannya, perusahaan atau organisasi dimana dia bekerja; dan ketiga, bertumbuh menjadi guru bagi bangsanya, dan bagi umat manusia di ‘sekolah besar kehidupan’.

Dengan belajar berarti kita telah bertanggung jawab terhadap diri. Bukankah manusia dituntut eksis? Belajar merupakan cara sederhana untuk menunjukkan eksistensi sebagai manusia, yaitu menjadi pembelajar (being human). Menurut HA (2000) bahwa singkatnya manusia adalah satu-satunya makhluk yang berpotensi untuk pertama-tama belajar tentang dirinya, kemudian berusaha belajar menjadi dirinya itu dengan cara belajar mengekspresikan potensinya ke dunia luar (inside out).



Kita Belajar tentang atau Belajar (melakukan) ataukah belajar menjadi??

Konsep menjadi  pembelajar yang digagas oleh Harefa Andrias (2000) merupakan sebuah penyadaran akan eksistensi menjadi pembelajar sejati atau manusia pembelajar. Dijelaskan kembali bahwasanya manusia sebagai pembelajar membelalakkan kita tentang keunikan manusia yang berbeda dengan mahkluk Tuhan lainnya. Dan disimpulkan bahwa manusia adalah salah satu makhluk ciptaan yang dibekali kemampuan untuk belajar tentang (pengajaran) agar ia dapat belajar menjadi (pembelajaran) dengan cara belajar (pelatihan). Ia adalah subjek sekaligus objek bagi dirinya sendiri.

Jika berbalik pada judul kecil diatas apakah kita sedang belajar tentang atau belajar (melakukan) ataukah belajar menjadi tidaklah penting. Yang terpenting adalah kita tetap belajar setiap hari, menjadi pembelajar sejati dan mejadikan, masyarakat pembelajar. Tak penting sekecil apapun skalanya, dimana pun tempatnya tapi yang terpenting adalah kapannya, bahwa kita harus memulai dari sekarang, Ya sekarang juga!! Lebih tepatnya kita harus Memulai – On becoming a learner.

Ending

Sampai pada akhirnya saya mencoba menyimpulkan bahwa proses pembelajaran dapat menjadikan hidup bahagia, yang tidak berdaya menjadi sumber daya dan membiasakan hati untuk bersih dari berbagai prasangka (prejudice) dan penghakiman dini (early judgment). Proses belajar juga mengajarkan kita, tentang pentingnya berterimakasih kepada siapa saja yang baik hatinya, khususnya pada mama dan papa yang sangat saya cintai juga maha guru yang luar biasa dedikasinya. Sungguh, saya mencintai kalian.

Untuk mengakhrinya, kita perlu melihat beberapa kutipan:

Rosalyn S. Yallow; 
Kesenangan belajar memisahkan kaum muda dengan kaum tua. Sepanjang anda bersedia belajar, anda tidak pernah menjadi tua.
H. Owens;
Bukannya profit dan produk tidak lagi penting, namun tanpa pembelajaran berkelanjutan, keduanya tak lagi dimungkinkan.
Dan yang terakhir adalah kutipan dari penulis yang sudah cukup lama saya bangga-banggakan, Andrias Harefa, lelaki juga sosok ayah yang sangat bersyukur tidak pernah menyelesaikan pendidikannya di Fakultas Hukum UGM hanya demi mempertahankan sebuah prinsip.

Pembelajar mengolah kata, pemimpin menyusun kalimat dan guru merangkai makna.