Heavenly Blush Greek Yogurt 


Yogurt merupakan salah satu produk olahan susu yang bercita rasa asam dan memiliki aroma yang khas. Pembuatan yogurt melibatkan bakteri probiotik dan melewati proses fermentasi. Bahan-bahan untuk pembuatan yogurt diantaranya susu segar (whole milk atau skim milk), plan yogurt dengan kandungan bakteri yang masih hidup/bakteri probiotik. Jangan  lupa sediakan toples besar dengan tutupnya.

Selanjutnya untuk cara pembuatan, panaskan susu dengan api kecil, diaduk namun jangan dipanaskan sampai mendidih. Dinginkan lalu tambahkan bibit yogurt kurang lebih 5% dari banyaknya susu dan aduk hingga rata. Berikutnya adalah proses fermentasi yang dilakukan dengan mendiamkan susu yang telah dicampur plan yogurt ke dalam toples yang tertutup rapat selama 24 jam. Suhu ruangan antara 40-50OC. Setelah selesai tambahkan perasa dan gula secukupnya. Sederhana tetapi jika dilakukan sendiri cukup rumit juga guys!

Bagi penikmat setia yogurt mungkin akan memilih membuat sendiri, tetapi bagaimana jika sedang diapit oleh beragam kesibukan. Mungkin akan lebih prefer memilih yogurt instan, tentunya dengan kualitas yang tetap terjamin.

Kini, yogurt dapat dinikmati secara instan loh! Penikmat setia yogurt tidak perlu bersusah payah mengasamkan susu dengan bakteri. Heavenlyblush greek yogurt merupakan yogurt tinggi protein, dengan tekstur kental yang kaya nutrisi juga mengenyangkan.  Selain itu produk yang ready to drink ini dibuat tanpa bahan pemanis dan perasa buatan. Yang terpenting adalah tanpa bahan pengawet guys!

Heavenly Blush Greek Yogurt memiliki dua jenis. Pertama, Heavenly Blush Greek Yogurt Cup yang disajikan dengan potongan buah yang kadar manisnya bisa ditentukan sesuai selera seperti stawberry, peach, granola, pir dan apel. Sedangkan yang kedua, ada Heavenly Blush Greek Yogurt Classic yang merupakan jenis yogurt ready to drink. Kemasannya juga kece, berbentuk prisma yang membuatnya mudah dibawa ke mana-mana.

Greek Yogurt Strawberry

Kecintaan pada yogurt bukan tanpa alasan. Snack bernilai gizi tinggi ini juga diburu terutama bagi #YOGURTARIAN karena memiliki banyak manfaat untuk tubuh. Nakamura et al (2001) dan Wu. Z, et al (2011) bilang bahwa yogurt mengandung Bakteri Asam Laktat (BAL) yang berpotensi menurunkan kadar kolesterol non HDL. Hal ini diduga karena bakteri dalam produk tersebut menghasilkan asam-asam organik seperti asam glukoronat, asam propionat, asam folat dan asam laktat. Sederhananya, dengan mengonsumsi yogurt serta merta akan menurunkan resiko komplikasi pada penderita DM atau Diabetes Melitus.

Snack kaya protein ini juga menjadi pilihan. Mengapa? karena kandungan protein yang terkandung di dalam greek juga sangat bermanfaat bagi tubuh. Dilansir honestdocs.id, protein memiliki peranan bagi tubuh: (1) perbaikan dan perawatan; (2) sebagai sumber energi; (3) pembentukan hormon; (4) pembentukan enzim; (5) sebagai alat transportasi dan penyimpanan molekul tubuh dan yang ke (6) sebagai pembentuk antibodi. 


Nah, itu adalah beberapa keuntungan mengonsumsi yogurt guys! Bagi kamu yang suka ngemil, tidak ada salahnya mencoba snack yang cukup menutrisi tubuh. Jika tidak mau ribet, pilihlah Heavenly Blush Greek Yogurt. Dijamin, gak bakal repot! Jika tubuh mulai butuh suplai nutrisi maka yogurth greek menjadi rekomendasi! Konsumen smart, pilih Heavenly Blush Greek Yogurt! Selamat Menikmati! 

Tulisan diikutsertakan pada Lomba Blog #HeavenlyBlushGreekYogurt


Anak-anak sibuk bermaik gawai


Pendidikan menjadi kunci utama pergerakan dan perkembangan bangsa-bangsa. Maju atau tidaknya suatu bangsa dapat diukur dari kemajuan pendidikannya. Di Indonesia berlaku wajib belajar 9 tahun, ini dimulai sejak anak usia dini.

Data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menunjukkan bahwa tahun ajaran 2016/2017, total 4.605.809 anak-anak menjadi siswa-siswi taman kanak-kanak di seluruh Indonesia. Sementara Kementerian Kesehatan RI pada tahun 2017 mengestimasi jumlah anak usia prasekolah adalah sebanyak 9.647.997 anak. Angka ini mengindikasikan bahwa masih terdapat banyak anak-anak usia prasekolah yang tidak mengikuti jalur pendidikan formal PAUD (Appletreebsd, 2019).

Era disrupsi menjadi tantangan tersendiri dalam pendidikan anak usia dini. Kini anak-anak bahkan anak usia dini sudah dimanjakan dengan kemajuan teknologi. Sebagian besar anak-anak begitu aktif menggunakan gawai dan piawai dalam mengakses internet. Namun sayangnya penggunaan gawai/internet oleh anak-anak menyisakan berbagai persoalan.

Sejumlah kasus kecanduan gawai dan internet tercatat: 7 April 2016, di Sleman DI Yogyakarta, tiga remaja SMP membobol dan mencuri barang berharga di sekolah taman kanak-kanak untuk biaya bermain gim daring. Pada 31 Maret, 2017 di Bireuen, Aceh seorang bocah usia 10 tahun rela mengemis di pasar dan jalan raya agar memperoleh uang untuk ke warnet. 2 Juni 2017 di Samarinda, Kalimantan Timur Seorang remaja nekat mencuri motor dan menjual komponen hasil curian untuk biaya bermain gim daring.

Tak selesai sampai disitu saja, 11 Januari 2018 di Bondowoso, Jawa Timur dua pelajar pecandu gawai dirawat di RS Bondowoso karena mengalami gangguan jiwa. Sementara pada 25 Januari 2018 di Mojokerto, Jawa Timur seorang siswa SMP usia 15 tahun didiagnosis menderita hipertensi primer akibat terlalu sering bermain gim. Hingga 28 Februari 2018 di Probolinggo, Jawa Timur, pelajar kelas II MTs nekat mencuri uang Rp. 1,7 juta dan ponsel di rumah warga untuk bermain gim (Kompas, Juli 2018).

Adiksi atau kecanduan gawai dan internet pada anak-anak menurut Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan anak (PPPA) Yohana Susana Yembise (24/7/2018) dapat memberikan dampak negatif: kecanduan pornografi, pengaruh pada kesehatan, kesulitan berkonsentrasi, hingga penurunan prestasi belajar. Sehingga pembatasan gawai pada anak sangat penting.

Anak usia dini merupakan usia emas, yang mana harus diisi dengan pendidikan yang sehat dan ramah anak. Kecakapan literasi digital anak akan terwujud jika orang tua atau keluarga juga memiliki kecakapan literasi digital yang mumpuni.

Cakap literasi digital tidak sekadar terampil secara teknis mengakses internet tetapi juga mampu memfilter beragam informasi dan hiburan di internet. Melindungi anak dari internet bisa dilakukan melalui beberapa cara, misalnya mengarahkan anak untuk lebih baik menggunakan Kiddle sebagai mesin pencari laman web. Dalam kiddle.co, konten yang disajikan dipastikan aman dan layak diterima anak.



Selain mengarahkan dalam pengaksesan internet dan penggunaan gawai yang baik. Keluarga pun dapat mencari alternatif permainan yang edukatif pada anak, misalkan dengan metode pop up book atau baby garden.

Untuk pop up book sendiri, anak-anak dapat diajak bersama-sama untuk membuatnya. Pop up book berupa buku yang berisi gambar 3D, kontennya bisa tentang animal atau tumbuh-tumbuhan. Bahan pembuatannya dapat berasal dari kertas-kertas bekas. Ini sekaligus mengajarkan anak untuk cerdas dalam penggunaan kertas: zero wate, hidup tanpa sampah. Dengan ini anak-anak akan terangsang untuk menjadi kreatif dan inovatif.

Sementara konsep baby garden menjadi trik agar anak-anak mencintai lingkungan sejak dini. Mengapa? Baby garden atau kelas berkebun ini mengajak anak-anak untuk menanam: mulai dari mengisi tanah di polybag, meletakkan benih/bibit tanaman, menyiram hingga mengamati tumbuh-kembang tanaman. Konsep ini digadang-gadang dapat membuat anak-anak mencintai lingkungan sejak usia dini.

Fenomena kecanduan gawai pada anak-anak saat ini menjadi perhatian. Pembatasan penggunaan gawai pada anak, termasuk membatasi konten dan informasi yang tidak layak bagi anak, merupakan salah satu langkah yang perlu dimasifkan oleh pemerintah  bekerja sama dengan keluarga untuk melindungi anak dari adiksi atau kecanduan terhadap  gawai.


Tetapi lagi-lagi, kesemuanya adalah bermula dari peran keluarga. Keluarga merupakan pranata sosial pertama yang menjadi penopang tumbuh kembang anak. Keluarga harus dijadikan basis untuk pendidikan anak usia dini sehingga kemajuan teknologi akan selaras dalam mendukung perkembangan anak yang lebih baik.  Mencari konsep baru untuk mengalihkan kencederungan anak terhadap gawai/internet adalah solusi untuk merawat tunas baru bangsa ini. 

Tulisan ini diikutsertakan pada Lomba Apple tree Pre-School BSD



Peta Sebaran daerah Tertinggal di Indonesia

Mengenali Daerah 3T

Dari Sabang sampai Merauke, Berjajar pulau-pulau. Penggalan lirik lagu ini mendeskripsikan Indonesia sebagai archipelago state terdiri dari ribuan gugus pulau yang terbentang dari sabang sampai merauke. 

Sejak tahun 1945 atau genap 73 tahun merdeka tidak serta merta membuat semua gugus pulau di Indonesia lantas menjadi sejahtera. Buktinya masih banyak wilayah di Indonesia yang belum merasakan nikmatnya penerangan, pendidikan yang layak hingga kemajuan ilmu pengetahuan teknologi.

Tahun 2015 pemerintah menetapkan daerah 3T atau daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 131/2015 tentang Penetapan Daerah Tertinggal Tahun 2015 – 2019. Dijelaskan bahwa daerah tertinggal merupakan daerah kabupaten yang wilayah serta masyarakatnya kurang berkembang dibandingkan dengan daerah lain.

Adapun penetapan daerah 3T  dilihat berdasarkan beberapa aspek diantaranya: perekonomian masyarakat, sumber daya manusia, sarana dan prasarana, kemampuan keuangan daerah, aksesibilitas dan karakteristik daerah.

Dalam Perpres No. 131/2015 terdapat 23 propinsi yang didalamnya mencakup 122 kabupaten yang masuk dalam daftar daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal.

Tabel wilayah 3T berdasarkan Perpres No. 131/2015:

Propinsi
Kabupaten
Aceh, Singkil
Nias, Nias Selatan, Nias Utara, Nias Barat
Mentawai, Solok Selatan, Pasaman Barat
Musi Rawas, Musi Rawas Utara
Seluma
Lampung Barat, Pesisir Barat
Bondowoso, Situbondo, Bangkalan, Sampang
Pandeglang, Lebak
Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur, Sumbawa, Dompu, Bima, Sumbawa Barat, Lombok Utara
Sumba Barat, Sumba Timur, Kupang,
Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara
Belu, Alor, Lembata, Ende, Manggarai,
Rote Ndao, Manggarai Barat, Sumba Tengah, Sumba Barat Daya, Nagekeo
Manggarai Timur, Sabu Raijua, Malaka
Sambas, Bengkayang, Landak, Ketapang
Sintang, Kapuas Hulu, Melawi, Kayong Utara
Seruyan
Hulu Sungai Utara
Nunukan, Mahakam Ulu
Banggai Kepulauan, Donggala, Toli-toli
Buol, Parigi Moutong, Tojo Una-Una
Sigi, Banggai Laut, Morowali Utara
Janeponto
Konawe, Bombana, Konawe Kepulauan
Boalemo, Pohuwato, Gorontalo Utara
Polewali Mandar, Mamuju Tengah
Maluku Tenggara Barat, Maluku Tengah
Buru, Kepulauan Aru, Seram Bagian Barat
Seram Bagian Timur, Seram Bagian Timur
Maluku Barat Daya, Buru Selatan
Halmahera Barat, Kepulauan Sula,
Halmahera Selatan, Halmahera Timur,
Pulau Morotai, Pulau Taliabu
Teluk Wondama, Teluk Bintuni, Sorong Selatan, Sorong, Raja Ampat, Tembrauw, Maybrat
Merauke, Jayawijaya, Nabire, Kepulauan Yapen, Biak Numfor, Paniai, Puncak Jaya, Boven Digoel, Mappi, Asmat, Yahukimo
Pegunungan Bintang, Tolikara, Sarmi, Keerom, Waropen, Supiori, Memberamo Raya, Ndunga, Lanny Jaya, Memberamo tengah, Yalimo, Dogiyai, Intan jaya, Deiyai

Membangun Daerah 3T Lewat Potensi Lokal

Setelah penetapannya tahun 2015, pemerintah cukup bergeliat membangun daerah 3T. Komitmen tersebut juga tertuang dalam nawacita pemerintah yang telah direalisasikan dalam bentuk kerja konkrit selama 2015 hingga 2019.

Laporan Empat tahun pemerintahan Jokowi-JK mendeskripsikan bahwa telah ada kemajuan di wilayah 3T. Hal ini diperkuat dengan kucuran dana desa. 

Dalam catatan pembangunan infrastruktur terlihat bahwa pemerintah telah membangun: (1) infrastruktur konektivitas berupa jalan dan jembatan, kereta api, bandara udara dan pelabuhan; (2) infrastruktur pendukung ketahanan pangan yaitu pembangunan bendungan dan embung serta (3) pembangunan infrastruktur telekomunikasi (Lihat: 4 Tahun Jokowi JK Catatan pembangunan Infrastruktur)



Pembangunan yang telah dicapai bukanlah sesuatu yang final. Pembangunan daerah 3T perlu digalakkan dengan pendekatan pemanfaatan potensi lokal. Mengapa demikian? Karena masyarakat yang berada di wilayah 3T secara turun temurun telah bergelut dengan potensi lokal yang ada. Pengetahuan untuk mengelola dan memanfaatkan potensi lokal ini diharapkan dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. 

Yang menjadi permasalahan dasar daerah 3T adalah tingkat ketersediaan infrastruktur sarana dan prasarana dasar publik. Jika pemerintah sudah dapat menyediakannya maka langkah selanjutnya adalah pemanfaatan atau pengelolaan sumber daya lokal untuk pengembangan perekonomian daerah tertinggal.

Misalkan jika di salah satu daerah 3T tersebut memiliki potensi kelapa maka itulah yang harus dikembangkan dengan cara introduksi teknologi dan  pengetahuan serta inovasi untuk memperbaiki kelemahan yang ada pada fase sebelumnya. Begitupun pengembangan pada sektor pariwisata, kemaritiman dan lainnya harus tetap mempertimbangkan potensi lokal dan kecakapan masyarakat setempat sebagai leader atau pengelola.

Pengabaian terhadap potensi lokal yang dimiliki oleh masing-masing wilayah 3T seperti mempersulit masyarakat setempat untuk meraih kesejahteraan. Sehingga pemetaan potensi lokal Daerah 3T menjadi kunci utama sebelum mengambil kebijakan dalam pembangunan lebih lanjut. Kemudian selanjutnya adalah mengeratkan simpul sinergitas berupa penguatan koordinasi dan sinkronisasi dalam rangka pelaksanaan kebijakan percepatan pembangunan daerah tertinggal. 

Hal ini diperkuat oleh Soetomo (2014) bahwa terdapat tiga hal yang dapat dilakukan untuk menjembatani antara potensi, sumberdaya dan peluang di satu pihak dengan kebutuhan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan di lain pihak, diantaranya (1)  identifikasi kebutuhan masyarakat; (2) identifikasi potensi sumberdaya dan peluang dan (3) proses dan upaya untuk mencari cara yang lebih menguntungkan dalam memanfaatkan potensi dan sumberdaya yang ada. 

Bersama Korindo, Wujudkan Masyarakat yang Berkelanjutan?

Korindo atau Grup KORINDO  merupakan grup perusahaan lokal dengan tim manajemen multinasional, didirikan pada tahun 1969. Sebagai pemimpin di berbagai industri di pasar Asia Tenggara, Grup KORINDO mengkompromikan lebih dari 30 perusahaan terafiliasi yang bergerak dalam bisnis sumber daya alam, pabrik kertas, industri berat, pembiayaan, real estat, bahan kimia, dan logistik.

Bagaimana Korindo dapat mewujudkan masyarajat yang berkelanjutan?



Pengeratan simpul sinergitas sebagaimana disebutkan diatas perlu ditingkatkan sebagai solusi yaitu dengan menghubungkan peran pemerintah, swasta, perbankan, akademisi dan masyarakat. Semua stakeholder perlu duduk satu meja untuk merumuskan strategi pembangunan daerah 3T lewat potensi lokal untuk mewujudkan masyarakat berkelanjutan. 

Masyarakat berkelanjutan berkaitan dengan kaidah lama dan kaidah baru dalam Ernest Callenbach, "Kaidah" Ekologis Masyarakat Berkelanjutan. Konsep ini harus menjadi pijakan dalam membangun daerah 3T kedepan. 

Ernest Callenbach memberikan ilustrasi terhadap kaidah lama dan baru. Kaidah lama: pada masa kemakmuran, tahun 1960-an hingga 1970-an, disusunlah sebuah etika mengenai pemborosan. Sebagai contoh, orang semakin memikirkan hidup dari sudut pandang ekonomi semata dan merasa bahwa membeli kertas tisu dan membuangnya kedalam tempat sampah lebih murah dan lebih mudah untuk dilakukan daripada menggunakan sapu tangan dari kain yang dapat dicuci dan digunakan lagi (Ternyata mereka keliru dalam hal biaya). 

Sementara Kaidah baru: karena dalam kenyataannya tidak ada yang "dibuang", yang membuat sesuatu bisa dibuang di bumi ini, kita harus belajar berpikir sesuai siklus, meniru proses yang dijalani alam itu sendiri. Seluruh "limbah" dan bahan-bahan lain termasuk aspal atau beton juga gelas, plastik dan metal harus didaur ulang. 

Selain itu, energi yang digunakan untuk mendaur ulang harus diminimalisasi. Rencana "penghapusan emisi atau gas buangan," limbah dari setiap industri harus menjadi bahan mentah untuk keperluan lainnya. Karena itu, kaidah baru berbunyi: jangan boros; berhasil mendaur ulang seratus persen. 

Pendekatan kaidah baru lebih menekankan pada manajamen zero waste atau pengelolaan dengan nol sampah. Artinya semua limbah yang dihasilkan dari proses produksi dalam pembangunan harus bisa didaur ulang. Setiap derap langkah dalam proses pembangunan dituntut untuk berwawasan ekologis. 

Pembangunan yang diperankan oleh pihak swasta seperti Korindo yang merupakan salah satu perusahaan yang mengembangkan beberapa daerah 3T pun dituntut untuk menerapkan konsep wawasan ekologis guna mewujudkan masyarakat yang berkelanjutan. 

Visi Korindo yaitu membangun hubungan yang harmonis antara kegiatan bisnis perusahaan dengan publik serta pemangku kepentingan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian masyarakat. Dan misinya yaitu (1) secara aktif meningkatkan meningkatkan kualitas hidup melalui program pembangunan sosial yang sistematis dan berkelanjutan, (2) Membangun kesadaran, pengetahuan dan kapasitas, serta mendorong partisipasi masyarakat setempat dalam upaya meningkatkan kesejahteraan hidup mereka dan (3) Mendorong sinergi dalam bentuk koordinasi, integrasi serta (4) Kolaborasi program pembangunan sosial dengan berbagai pemangku kepentingan.



Sebagai salah satu perusahaan yang geliat dalam pembangunan khususnya pembangunan di wilayah 3T diharapkan konsistensi dan komitmennya untuk tetap mewujudkan pembangunan yang berasas pada pengembangan masyarakat berkelanjutan sebagaimana taglinenya green tommorow. Sinergitas semua stakeholder terutama pelaku usaha menjadi kunci untuk dapat memberikan ruang kesejahteraan bagi masyarakat di daerah Terdepan, Terluar dan tertinggal sehingga dapat membawa #Perubahan Untuk Indonesia Yang Lebih Baik. Sehingga kebahagiaan dapat dirasakan oleh masyarakat di sepanjang-jajaran pulau-pulau di Indonesia.

Tulisan diikutsertakan pada Lomba Blog Korindo: 




Perempuan Membaca: Manusia Bebas, karangan Suwarsih Djojopuspito Penerbit Djambatan Cet. I tahun 1975

Mengenal Suwarsih, penulis Manusia Bebas

Buiten het Gareel atau Di Luar Jalur atau yang diterjemahkan menjadi Manusia Bebas adalah Novel yang dikarang oleh Suwarsih Djojopuspito, seorang perempuan kelahiran Cibatok Bogor, 20 April 1912. Jika saat ini penulisnya masih diberikan kesempatan hidup di bumi, tiga hari lalu mungkin keluarga dan sanak saudaranya akan berbondong-bondong memberikan ucapan: selamat ulang tahun yang ke-80. Sayangnya, Suwarsih berpulang 24 Agustus 1977.

Tetapi tak mengapa, sampai 2019 ini karya-karyanya akan menjadikan Suwarsih tetap hidup dalam hati para pembacanya. Bukan hanya Manusia bebas yang ditulis pada tahun 1939 saja tentunya, Adapula: Empat Serangkai (1954), Riwayat Hidup Nabi Muhammad SAW (1960) dan Hati Wanita (1964).

Dilansir dalam historia.id, Suwarsih merupakan istri dari Sugondo Djojopuspito yang merupakan sekretaris Kongres Pemuda 1928. Keduanya saling membantu dalam perjuangan kemerdekaan. Teman-teman Suwarsih Djojopuspito, sastrawan HB Jassin dan sejarawan Sartono Kartodirdjo ikut mendorong Buiten Het Gareel untuk diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Memang pada awalnya Naskah Buiten Het Gareel ditulis dalam bahasa Sunda dan dikirim ke Penerbit Balai Pustaka namun naskah ini ditolak karena dianggap bermuatan politik dan kurang berguna juga kurang berisi pengajaran.

Naskah tersebut selanjutnya ditulis kembali kedalam bahasa Belanda atas saran Eddy Du Peron, redaktur Kritiek en Opbouw. Berkat kegigihannya, walhasil tahun 1940 Buiten Het Gareel terbit dan kembali dicetak pada 1946.

Cerita tentang Sulastri dalam Manusia Bebas

Manusia bebas mengisahkan tentang jaman pergerakan, dimana nasionalisme begitu mengobarkan semangat bibit-bibit bangsa. Settingan waktu tahun 30-an  mengantarkan kisah sepasang suami isteri, lingkungan perguruan serta permasalahan pelik yang dihadapi kaum pendidik idealis.

Sudarmo dan Sulastri merupakan pemeran utama pasangan suami istri yang memilih profesi sebagai guru di sekolah kaum pergerakan. Pada masa itu, para kaum pergerakan seperti Sudarmo dan kawan yang lainnya menjadi intaian PID dan Pemerintah Gupernemen.

Pasang surut dialami dalam penyelenggaraan sekolah tersebut, mulai dari masalah pendidikan, kehidupan sosial para guru dan kesulitan keuangan. Mungkin tak ada asap jika tak ada api. Bayangkan saja, para murid di sekolah tersebut merupakan rakyat jelata: hidup susah terlebih beban uang sekolah menjadi tekanan bagi orang tua para murid-murid tersebut.

Sulastri cukup kritis dan memiliki hasrat besar untuk berjuang bersama-sama dengan suaminya. Sampai pada klimaksnya, Sudarmo menerima onderwijsverbod yang artinya Sudarmo tidak boleh lagi mengajar. Hal iniliah yang menjadikan nasib Sulastri dan Sudarmo terombang-ambing.

Manusia Bebas dalam berbagai Pandangan

Skripsi yang ditulis Syarifah Aliya tahun 2010, mengungkapkan bahwa Novel Manusia Bebas menggambarkan tentang perjuangan kaum intelektual yang setara dengan bangsa Belanda untuk mendirikan sekolah partikelir bagi kaum pribumi. Aliya melihat Manusia Bebas mengandung nasionalisme. Terlihat jelas perjuangan Sulastri, Sudarmo dan teman-temannya dalam mendirikan sekolah untuk kaum pribumi yang terus diperhadapkan dengan kesulitan-kesulitan seperti penyitaan dan penangkapan oleh pemerintah Belanda.

Manusia Bebas Judul Bahasa Belanda Buiten het Gareel

Manusia Bebas merupakan dokumen sejarah berharga bagi Arif Sugiharto (2015) karena Suwarsih mampu mendeskripsikan seorang Inggit Garnasih dari cara pandang seorang perempuan.  Dalam Manusia bebas kita bisa menemukan tokoh Inggit Garnasih, yang sesungguhnya jarang ditemukan pada tulisan-tulisan lain, terlebih  dari sudut pandang perempuan.

“Ia mengucapkan perkataan”sayang” itu dengan suara mengelus dan ia memandang Sulastri dari samping. Biarpun sekenes itu, Nampak pada raut mukanya yang halus itu kesan pada seorang ibu, yang penuh kasih sayang. Paras ini masih kelihatan cantik, walaupun Zus karno usianya ssudah agak lanjut. Bentuk wajahnya yang lonjong, rautan halus dari hidung ke dagu dan sanggul yang berisi pada lehernya yang masih kekar dan ramping memberikan kepada dia kesan seorang wanita muda biarpun agak bertentangan dengan dengan garis-garis dan kerut-kerut disana-sini dan pandangan matanya yang agak suram. Badan ramping dan gerak-geriknya yang hidup dari kejauhan memberi kesan, bahwa dia seorang gadis belaka. Ia menggairahkan dalam percakapanya dan caranya ia menghadapi seseorang; seseorang wanita, yang mencari kebahagiaan dalam mnyenangkan orang lain dan apalagi suaminya. Selanjutnya ia bercakap dengan halus penuh irama dengan mengindahkan tekanan pada kata-kata serta gerak tanganyya dalam bahasa sunda yang luwes. Bahasa sundanya ini memberikan kesan pada gerakan seorang penari yang dengan gerak tangan halus melintas pada pandangan mata dan sulastri mendengarkan dengan perasaan kagusm: alangkah luwes dan halus perempuan cantik ini”(p.51)

Goenawan Muhammad dalam Esainya:  Perempuan dalam Garis yang Lurus begitu mengakui kepiawaian Suwasih Djojopuspito. Goenawan menjelaskan bahwa tulisan Suwarsih juga berkutat seputar catatan harapan dan kepedihan perempuan Indonesia yang melawan dan terjepit. Dia bukan Kartini meskipun pada beberapa referensi mencantumkan kelahirannya tanggal 21 April, pun adapula yang 20 April. Suwarsih dalam penuturannya lebih kompleks, lebih intim, lebih terbuka dan dengan latar yang lebih luas jika dibandingkan dengan surat-surat Habis Gelap Terbitlah Terang.

Goenawan melihat bahwa Manusia Bebas telah membuktikan bahwa kesusastraan bukanlah bangunan ide yang mengarah. Kesusastraan adalah imajinasi yang  berangkat dari dan di dalam pengalaman antar manusia.

Pernyataan tokoh Sulastri di bagian akhir Manusia Bebas mengisyaratkan bahwa ide itu, betapapun pentingnya tak bisa menenggelamkan hidup sehari-hari yang tak istimewa meskipun beratri. Nadanya mengusik: “Apakah...pergerakan wanita akan mengizinkannya kalau aku sekarang membuat kue untuk Rustini?”


Menjadi Manusia Bebas



Catatan:

Manusia Bebas merupakan salah satu buku favorit penulis. Disini penulis menemukan perempuan-perempuan hebat. Baik itu Suwarsih dan yang dikisahkannya: Sulastri menjadi pendorong bagi penulis untuk terus belajar dan belajar.  Pemaparan Aquarini Priyatna, UNPAD dari Youtube Salihara menjadi pemicu untuk mencari Manusia Bebas. Alhamdulillah, 03 Mei 2015, penulis menemukan buku aslinya di pasar Buku Palasari Bandung, secara kebetulan. 




“Gajah mati meninggalkan Gading. Manusia mati meninggalkan Karya”

Jika setiap aksara yang terukir bisa membuatmu merasa bahagia maka aku akan tetap setia mengukirnya.

Menjadi Narablog, Benarkah pilihan menjadi bahagia?

Blog menjadi wadah bereksistensi semua kalangan usia. Kaula muda, senior kita bahkan opa-opa juga mengambil peran menjadi Blogger. Tak bisa dinafikkan derasnya arus informasi dan keterbukaannya menjadikan kita perlu bersikap awas. Jika terlambat, kita akan tergilas. Bukankah begitu? Hehe, sepertinya sangat menegangkan!

Pilihan menjadi narablog tak lain adalah untuk menyalurkan kesukaan dalam menulis. Jika dulu lebih senang menuliskan segala ide dan kisah dalam Book Diary. Maka kini, semuanya dapat ditumpahkan dalam blog, ketik-ketik, sekali klik enter maka apa yang menjadi ungkapan hati tentunya sekejap dapat dibaca orang seantero negeri. Menyenangkan bukan? Terlebih jika apa yang dituliskan dapat memotivasi pembaca lainnya. Mungkin dengan segera Malaikat mencatatkan pahalanya. Insya Allah, Aamin!

Menilik Wikipedia, bahwa Narablog merupakan istilah yang disematkan pada si empuNya blog secara berkala menyunting tulisan di blog.

Tulisan dalam blog pun tak tentu, tak harus satu jenis. Sesuka hati penulisnya. Jika hobi travelling, mungkin akan banyak tulisan yang akan dihasilkan terkait perjalanan. Jika penulis atau Bloggernya mencintai buku mungkin akan hadir satu fitur–Resensi dalam blognya.

Sebagai Narablog menulis menjadi sebuah terapi jiwa. Jujur saja, terkadang banyak hal dalam kehidupan keseharian yang tak dapat diungkapkan secara lisan. Maka dengan menulis seperti menuntaskan segala kesendatan yang ada di dalam benak. Saat semuanya tersaji dalam tulisan maka dada terasa lapang, pikiranpun menjadi tenang dan percayakah anda kebahagiaan datang perlahan-lahan. Inilah yang saya maksudkan, bahwasanya menulis atau menjadi narablog merupakan salah satu pilihan menjadi bahagia.

Anda percaya? Mau coba?

Menambah Kawan di Dunia Digital

Menekuni narablog sebagai sebuah profesi juga memberikan keuntungan berlipat. Salah satunya adalah menambah kawan. Istilah blog walking juga menjadi pemicu bertambahnya followers. Upps! Hehehe.

Jika tulisan yang kita hasilkan menarik bagi pembaca atau blogger lainnya maka tidak menutup kemungkinan akun blog kita pun akan diikuti atau di follow. Walhasil, kawan kita akan bertambah. Bahagia bukan?

Tak sekadar asal follow saja, dengan blog walking atau saling berkunjung ke blog, proses diskusi akan tercipta. Tentunya akan memberikan dampak positif juga. Alih-alih sekadar komentar, berujung pada sharing info terbaru tentang blog dan kepenulisan bahkan hingga tawaran project menulis bersama. Siapa yang akan menyangka? Bukankah rezeki bisa datang kapan saja? Bahkan dari Kawan kita di dunia maya…

Kisah Jawara: Juara Menulis di Ultah JNE

Salah satu free blog adalah Kompasiana. Sejawat dengan Kompas–Koran Nasional Indonesia dibawah pimpinan Jackob Oetama. Kompasiana merupakan platform jurnalisme warga. Setiap warga yang memiliki akun di kompasiana memiliki kesempatan untuk menulis. Bisa dalam bentuk narasi singkat, kisah perjalanan, kritik hingga cerpen dan puisi.

Awal Desember saya mencoba peruntungan dengan menulis di Kompasiana saat



#Narablog #Blog